di artikel kali ini saya akan berbagi ilmu mengenai minuman
yang dihingapi oleh lalat,seperti yang kita ketahui lalat merupakan hewan kecil
kotor yang selalu kita hindari, tetapi anggapan itu tidak selalu benar , untuk
mengetahui lebih lanjut, mari kita simak artikel saya kali ini yang saya dapat
dari blog :http://ilmuislamblitar.blogspot.com
عن أبي هريرة –رضي
الله عنه- قال قال
رسول الله –صلي الله
عليه و سلم- ((إذا
وقع الذباب في شراب
أحدكم فليغمسه, ثم لينزعه, فإن
في أحد جناحيه داء,
و في الآخر
شفاء))
أخرجه البخاري, و أبو داود, و زاد: ((و إنه يتقي بجناحيه الذي فيه الداء))
Dari Abu Hurairoh –radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Jika lalat hinggap ke minuman salah seorang diantara kalian, maka hendaklah ia menenggelamkannya, kemudian buanglah (lalat tersebut), karena sesungguhnya di salah satu sayapnya ada penyakit, dan di sayap lainnya ada obat”. Dikeluarkan oleh Al Bukhori, dan Abu Dawud, dan dia (Abu Dawud) menambahkan, “Sesungguhnya ia menjaga sayap yang di dalamnya ada penyakit”
أخرجه البخاري, و أبو داود, و زاد: ((و إنه يتقي بجناحيه الذي فيه الداء))
Dari Abu Hurairoh –radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Jika lalat hinggap ke minuman salah seorang diantara kalian, maka hendaklah ia menenggelamkannya, kemudian buanglah (lalat tersebut), karena sesungguhnya di salah satu sayapnya ada penyakit, dan di sayap lainnya ada obat”. Dikeluarkan oleh Al Bukhori, dan Abu Dawud, dan dia (Abu Dawud) menambahkan, “Sesungguhnya ia menjaga sayap yang di dalamnya ada penyakit”
Derajat hadits:
Tambahan dari Abu Dawud derajatnya hasan
Faedah Hadits:
1. Sucinya
lalat baik dalam keadaan hidup maupun telah mati, lalat tersebut tidak menajisi
benda-benda yang dihinggapinya baik cair maupun padat.
2. Disunnahkannya
menenggelamkan seluruh tubuh lalat ke dalam benda cair yang dijatuhi oleh
lalat, kemudian diangkat dan dikeluarkan, lalu dimanfaatkan karena yang
terjatuhi oleh lalat tersebut suci. Adapun jika yang terjatuhi oleh lalat
tersebut benda padat maka buanglah bagian yang dijatuhi oleh lalat tersebut dan
yang sekitarnya, sebab bagian sisanya (selain yang dibuang) dari zat padat
tersebut tidak terkena penyakit.
3. Bahwa
di salah satu sayap lalat ada penyakit dan di sayap lain ada obat. Jika lalat
menghinggapi minuman, ia akan mengangkat sayap yang ada obatnya dan memasukkan
sayap yang ada penyakitnya ke dalam minuman untuk menjaga sentajanya yang Allah
titipkan di sayapnya dari kerusakan, ini akan menjadi simpanan baginya dalam
kehidupannya ketika ia membutuhkannya. Ini adalah hikmah Allah, Dia
memerintahkan agar sayap yang ada obatnya ditenggelamkan untuk menetralkan
penyakit pada satu sayap tersebut.
Adapun membuang minuman (setelah kemasukan lalat), maka ini termasuk menyia-nyiakan harta, dan syariat Islam bukanlah semata untuk satu zaman saja atau untuk satu suku bangsa saja, lagipula minuman selalu sangat berharga di zaman kapanpun dan di tempat manapun, dan bagi suku bangsa mana saja.
Adapun membuang minuman (setelah kemasukan lalat), maka ini termasuk menyia-nyiakan harta, dan syariat Islam bukanlah semata untuk satu zaman saja atau untuk satu suku bangsa saja, lagipula minuman selalu sangat berharga di zaman kapanpun dan di tempat manapun, dan bagi suku bangsa mana saja.
4. Di
hadits ini terdapat mukjizat ilmilah. Dalam pengetahuan modern telah digunakan
mikroskop dan alat-alat lainnya sehingga menemukan bukti ilmiah adanya obat
yang berbahaya di salah satu sayap lalat, dan menemukan adanya obat yang dapat
menetralisir pada sayap lainnya. Syariat Allah memiliki rahasia-rahasia.
5. Para
ulama menganalogikan kesucian lalat dengan seluruh jenis serangga yang tidak
memiliki peredaran darah lalu mereka menghukumi kesuciannya dan tidak najis
minuman atau makanan yang dihinggapi serangga-serangga tersebut baik makanannya
itu banyak maupun sedikit. Hal itu karena penyebab najis tersebut adalah darah
yang mengalir setelah kematiannya, dan sebab ini tidak ditemukan pada hewan
yang tidak memiliki peredaran darah seperti lebah, nyamuk, serta jenis-jenis
serangga lainnya.
Bantahan terhadap tuduhan orang-orang zindiq tentang hadits
ini
Sebagian orang zindiq mencela hadits ini, bahkan tuduhan demi tuduhan ditujukan kepada Abu Hurairoh –radhiyallahu ‘anhu-, diantara mereka adalah Mahmud Abu Rayah di dalam kitabnya yang dia namai “Adwa’u ‘alas sunnah al mahmudiyyah”. Hal ini telah dibantah oleh Syaikh Al Alamah Abdurrahman bin Yahya Al Mu'allimi di kitab beliau “Anwaarul Kaasyifah”, beliau berkata, “Terdapat di kitab yang disusun oleh Abu Rayah, ketika aku meneliti dan mengkajinya aku menemukan sekumpulan kalimat yang mencela sunnah nabi”. Jawaban dari celaan hadits (tentang lalat) ini kami rangkum berikut ini:
§ Pertama, hadits ini adalah
diantara hadits yang dipilih oleh Imam Al Bukhori untuk kitab Shahih
Bukhorinya. Cukuplah dengan pilihan Imam Al Bukhori yang mulia ini dan kitab
shahihnya yang disepakati oleh umat atas keshahihannnya untuk kita terima dan
kita jadikan sandaran hujjah dan amalan.
§ Kedua, hadits tentang lalat
ini tidak diriwayatkan oleh Abu Hurairoh sendirian, melainkan juga diriwayatkan
oleh Abu Sa’id Al Khudri, dan Anas bin Malik, sebagaimana yang ada di Musnad
Imam Ahmad
§ Ketiga, Siapa yang paling
hafal terhadap hadits-hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- banyak
nukilan haditsnya? Dialah (Abu Hurairoh –radhiyallahu ‘anhu-) yang mendapat doa
dari nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan hafalan yang kuat. Dialah yang
menghabiskan usianya untuk menghafal hadits. Tidak ada cocok tanam yang
menyibukkan dirinya atau perdangangan yang melalaikannnya. Hanyalah siang dan
malamnya ia memperhatikan hikmah dari apa yang disabdakan oleh nabi
–shallallallahu ‘alaihi wa sallam- , kemudian ia bergadang pada malam harinya
untuk menghafal dan memantapkannya.
§ Keempat, Syaikh Abdurrahman
bin Yahya Al Mu'allimi berkata, “Para ahli kedokteran menyadari bahwa tidak
semua ilmu yang mereka ketahui, mereka senantiasa menyingkap dan meneliti
sesuatu demi sesuatu. Lalu dengan keimanan apa Abu Rayah dan kawan-kawannya
menentang bahwa Allah telah memberi tahu Rasul-Nya –shallallahu ‘alaihi wa
sallam- tentang suatu perkara yang belum berhasil disingkap oleh ilmu
kedokteran. Padahal Allah lah pencipta kedokteran dan Dia-lah penetap syariat.
§ Kelima, Para ahli kedokteran
modern telah menemukan adanya penyakit di satu saya lalat dan di sayap lain ada
obatnya, dengan ini –Alhamdulillah- jelaslah kebenaran, dan siapakah
perkataannya yang lebih benar dibanding Allah?
wassalamualaikum
Sumber: Kitab Taudhihul Ahkam, Syarh Bulughul Marom, oleh
Syaikh Al Bassam
By : kajian bulughul maram

Tidak ada komentar:
Posting Komentar